• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Jobel Rifi Dasasius Samaloisa http://www.leader-paytren.com/?jobel-rifi.com/

Selasa, 29 Agustus 2017

Meninjau Kembali Banjir di Beberapa daerah Mentawai

Selasa, Agustus 29, 2017 // by Jobel RD Samaloisa // , // No comments

Banjir bukan lagi isu yang asing di setiap daerah. Ketika hujan turun atau ketika musim penghujan datang, banjir selalu menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang daerahnya terkena bancana banjir, bencana banjir tidak hanya bisa kita dengar isunya di Ibu Kota negeri ini, namun didaerah terkecil dan tersudut sekalipun seperti Mentawai tidak ketinggalan menjadi impas dari bencana banjir tersebut. Beberapa tahun terakhir ini banjir sudah menjadi salah satu problem yang dihadapi oleh masayarakat di daerah Mentawai.
Bila melihat dan meninjau banjir yang terjadi di beberapa daerah Mentawai, selalu membawa kisah yang membawak dampak kerugian bagi masayarakat, baik itu kerugian dari segi ekonomi, ataupun proses sosial bermasyarakat menjadi terhambat. Harusnya pemerintah harus meninjau lagi penyebab banjir yang selalu membawak dampak buruk di Mentawai. Sama-sama diketahui resiko dari banjir ini pastinya tidak terlepas dari sebab akibat dari aktivitas manusia itu sendiri, baik akibat pembagunan, pembukaan lahan ataupun beberapa resiko dari eksploitasi hutan tanpa memperhatikan kestabilkan lingkungan itu sendiri. 

Dampak dari Musibah Banjir

Bencana banjir yang bukan masalah sepeleh untuk diperhatikan dan diselesaikan, tidak bisa dianggap sebelah mata, jika penanganan bencana banjir ini tidak bisa dihadapi dan diselesaikan secara serius maka dampak terbesar banjir khususnya di Mentawai akan membawak dampak lebih besar lagi. Beberapa dampak akibat bencana banjir yang selalu terjadi.

Pertama Rusaknya atau Tidak Stabilnya Perekonomian Masayarakat. Ketika hal ini tidak stabil lagi di masyarakat, maka dalam proses memenuhi kebutuhan hidup akan sangat susah untuk dikendalikan, dikarenakan lahan pertanian terbenam, harta masyarakat banyak yang rusak, hal ini karena proses aktivitas terhambat oleh banjir itu sendiri.

Kedua Timbulnya Penyakit Baru di Masyarakat. Banjir yang terjadi tidak bisa terlepas dari dampak penyakit, seperti diare sampai penyakit-penyakit lain yang tidak diharapkan. Hal ini di karenakan kondisi badan yang lema akibat cuaca dingin, makanan yang dikonsumsi sudah tidak bersih, dan kebutuhan akan air bersih sudah sangat susah untuk didapat hal ini akan bisa mengancam keselamatan bagi setiap orang yang mengalami bencana banjir (bahkan menyebabkan hilangnya nyawa).  

Ketiga Rusaknya Insprastruktur Umum. Akibat banjir lainnya bisa merusak insprastruktur umum, seperti rusaknya jalan, rumah sakit, sekolah ataupun perkantoran lainnya. Akibat kerusakan yang di timbulkan, tentu ada biaya baru yang ditimbulkan untuk memperbaiki kembali insprastruktur yang rusak akibat bencana banjir tersebut. jika banjir datang tiap tahun, amak biaya akan perbaikan inprastruktur akan selalu teranggarkan cuma-cuma hanya untuk satu problem yang tidak terselesaikan.
Penyebab dari Bencana Banjir

Bencana banjir yang menimpa Mentawai pada saat ini, tidak semata-mata karena kebencian alam kepada manusia, tidak. Hubungan manusia dengan alam tercermin bagaimana manusia punya tanggung jawab besar terhadap alam tempat manusia menggantungkan hidupnya. Hal yang harus sama-sama diketahui, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-sahari manusia tidak terlepas dari alam itu sendiri, namun terkadang manusia itu sendiri terkadang terlalu rakus untuk memanfaatkan alam dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup, tanpa harus memperhatikan stabilitas alam itu sendiri. Adapun penyebab dari bencana banjir itu sendiri yaitu

Pertama Eksploitasi Hutan. Hutan yang selama ini menjadi penyeimbang kehidupan manusia, terkadang selalu dieksploitasi tanpa diperhatikan stabilitas proses tumbuh kembangnya. Hutan yang ada khususnya di Mentawai, menjadi salah satu penghalang atau penghambat banjir, jika hutan stabil maka resepan air, penghambat pengikisan tanah bisa teratasi jika struktur hutan stabil, karena hutan dengan banyaknnya pohon bisa menjadi penyokong dalam proses penyerapan air dan pengikisan lapisan tanah.

Kedua Sampah yang Menumpuk di Bantaran Sungai. Sampah terkadang menjadi problem yang selalu diabaikan akibat kemalasan dari masyarakat dalam menempatkan sampah pada TPA yang sudah disediahkan oleh pemerintah, jika pun belum ada TPA, manfaat dari sampah bisa dikelaloh berdasarkan bentuk dan manfaatnya, sampah organik bisa dikelolah menjadi pupuk organik sedangkan sampah plastik bisa dijadikan buah kerajinan tangan yang bernilai ekonomis.

Mengeveluasi banjir, memang tidak cukup hanya omongan dan pemikiran-pemikran yang cemerlang, tapi semua itu butuh bukti dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, jika hal ini sudah bisa disepakati, maka kemungkinan terbesar atau mengurangi dampak dari banjir bisa diatasi dan dikendalikan. Maka dari itu banjir bukan musibah yang didatangkan oleh yang kuasa, tetapi banjir ada karena ulah dan kerakusan manusia. Jika manusia mampu menjaga alamnya maka alam pun akan bersahabat dengan manusia yang menjaga alam tersebut.
**** 
Jobel Rifi Dasasius Samaloisa
"Bencana, bukan kebencihan Tuhan kepada Manusia, tetapi akibat ulah dari Manusia sendiri yang tidak mampu menjaga alam.


Jumat, 18 Agustus 2017

Fakta Unik dari Perlombaan Panjat Pinang

Jumat, Agustus 18, 2017 // by Jobel RD Samaloisa // // No comments


Dalam memperingati HUT RI disetiap pelosok negeri, selalu ditemui beberapa perlombaan yang sangat unik dan berkesan mentolerir persatuan dan kesatuan. Sebut saja salah satunya perlombaan panjat pinang, perlombaan ini terkesan selalu diiringi tawa lepas dari penonton. Semua itu berkat aksi-aksi pemanjat pinang yang mengundang tawa. Namun ada banyak hal yang menarik yang harus sama-sama kita ketahui dalam perlombaan unik dan menyenangkan tersebut.

1. Kompak
Dalam mencapai puncak hadiah dan mengibarkan benderah merah putih diatas pohon perlombaan panjat pinang, perlu yang namanya kekompakan tim. Bagaimana menyusun posisi pemanjat sehingga mampu mencapai puncak untuk merah hadiah.

2. Tantangan batangan pohon yang licin
Batangan pohon pinang yang di atasnya menjuntai hadiah-hadiah menarik, tentu untuk menggapai hadiah tersebut tidak semudah dalam berucap. Karena pohon yang mau dipanjat sudah dilumuri gomok atau oli sehingga membuat pemanjat susah untuk merangkulnya.

3. Kekuatan
Dalam proses memanjat pinang power/kekuatan selalu menjadi andalan, jika pemanjat tidak memiliki power yang baik maka akan sangat susah untuk mencapai puncak hadiah.

4. Penampilan pemanjat

Hal yang membuat lucu ketika pemanjat dengan bekas oli atau gomek yang menempel di badan maupun wajah terkadang sulit dikenali orangnya, wajah kesakitan terpancar di wajah pemanjat, akibat diinjak oleh sesama kawan untuk membuat suatu strategi memanjat.

Dalam perlombaan ini, terkadang rasa persatuan dan kesatuan yang terpancar sangat-sangat kental, dari aksi para pemanjat dengan wajah bak anggota tentara siap maju kemedan perang membuat hiburan menarik untuk masyarakat yang menyaksikan kegiatan panjat pinang. Semuanya tanpa perbedaan, semua tertutupi oleh sebauh momen perlombaan.


Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kita mampu memelihar rasa persatuan dan kesatuan layaknya sedang menyaksikan perlombaan panjat pinang, tentunya kita akan menjawabnya dalam hati dan mewujudkannya dalam tindakan. HUT RI ke-72 sama-sama kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat dari penjajahan, imperialism dan kolonialisme, memanggil atau mengajak kita untuk mewujudkan rasa nasionalisme yang tinggi sehingga kecintaan kita akan Negara Kesatuan Republik Indonesia benar-benar kokoh akan persatuan dan kesatuan, Dirgahayu Indonesia.

**** 

Jobel Rifi Dasasius Samaloisa
"Membaca adalah salah satu cara melawan kebodohan.

Kamis, 17 Agustus 2017

Merawat Moralitas Kemerdekaan

Kamis, Agustus 17, 2017 // by Jobel RD Samaloisa // // No comments



Merdeka adalah sebuah perjuangan yang selalu identik dengan pengorbanan, jika para pahlawan di masa kolonialisme, pengorbanan selalu identik dengan jiwa dan raga, murni untuk sebuah kata yang saat ini sangat mudah untuk diucapkan namun sulit untuk diperoleh, “Merdeka”. 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, tentu hal ini adalah titik balik kehidupan baru bagi bangsa Indonesia yang lebih berdaulat.

Kedaulatan itu tentunya sebuah impian besar yang bersejarah, terlepas dari belenggu penjajahan, kolonialisme dan imperialisme yang didapat dengan pengorbanan jiwa dan raga. Runtuhnya belenggu penjajahan, serasa membuka cakrawala kehidupan baru untuk bangsa Indonesia, masa depan bangsa perlahan mulai menemukan harapan dan cita-cita untuk hidup lebih tertata, manusiawi, beragama, ekonomi yang baik, kehidupan sosial yang aman, dan politik yang berdinamika.

Kamis, 17 Agustus 2017 tepat bangsa ini berusia 72 tahun, jika diibaratkan dengan umur manusia di bumi, bisa kita lihat bahwa bangsa ini sudah sangat berumur, namun harapan kita bersama bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tidak seperti hitungan umur manusia yang punya batasan. Merawat kemerdekaan memang bukan hal gampangan yang mudah diucapkan oleh lidah yang tidak bertulang, merawat kemerdekaan terkadang harus berbenturan dengan dinamika politik, ekonomi, agama, suku, ras dan etnis.

Bila mengutip kata yang pernah diucapkan oleh salah satu Founding Fathers bangsa ini, Ir.Soekarno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”, hal ini bisa tercermin bahwa yang menjadi lawan kita dalam merawat kemerdekaan adalah bangsa kita sendiri. Merawat kemerdekaan tentu merawat persatuan dan kesatuan, kita mungkin tidak ingin bahwa bangsa Indonesia hanya memiliki persatuan dan kesatuan yang sifatnya musiman, kenapa demikian? Ketika bulan Agustus tiba, suasana dengan rasa persatuan dan kesatuan sangat kental kita rasakan. Islam, Kristen, Budha, Hindu, Mentawai, Batak, Dayak, Bugis, Minang, Nias, Presiden, PNS, pegawai swasta, petani, nelayan, sampai PSK sekalipun sama-sama merayakan dan menyambut HUT RI. Namun sayang, persatuan dan kesatuan yang begitu kental di bulan spesial “Agustus”, jarang kita temui di bulan-bulan lain.

Terlepas dengan adanya kemerdekaan yang diberikan secara cuma-cuma, maka harapan besar para founding fathers dan para pahlawan pendahulu, kita dituntut bagaimana generasi penerus tidak hanya mampu menjaga kemerdekaan tetapi dua hal yang harus kita jaga dan pertahankan adalah bagaimana menjaga moralitas kemerdekaan yang akhir-akhir sering kita abaikan karena egosentrisme dari individu, kelompok, pemerintah, agama, etnis, ras dan suku bangsa. Kecintaan dan ucapan syukur  kita akan kemerdekaan bangsa ini tentunya kita dituntut untuk menghilangkan egosentrime tersebut.

Egosentrime memang bukan hal yang mudah untuk dihilangkan, tapi ucapan terimah kasih kita kepada para pahlawan dan founding fathers membuat kita harus mengesampingkan egosentrime, semua itu demi satu tujuan bersama yaitu merawat moralitas kemerdekaan. Jika kita mampu menjaga moralitas yang baik untuk sebuah kemerdekaan maka impian akan kebhinnekaan, kecintaan terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa, simpati dan empati dengan sesama manusia, kehidupan bersosial dan bermasyarakat melahirkan perdamaian dan kepedulain tinggi tentunya akan benar-benar terwujud.
**** 

Jobel Rifi Dasasius Samaloisa
"Kemerdekaan bukan milik satu golongan, Dirgahayu Republik Indonesia Ke-72.

Rabu, 02 Agustus 2017

Bak Obak Ake Kap Leleuta

Rabu, Agustus 02, 2017 // by Jobel RD Samaloisa // // No comments

Lagi-lagi itu terjadi dan terus terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya, semenjak aku yang merangkai huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf sampai membentuk sebuah tulisan sederhana yang penuh gelisa secara mendalam akan nasib dan peradaban budaya setiap generasi anak bangsa yang nantinya tidak tahu lagi akan keindahan, keunikan dan kecintaan akan budaya luhur yang selalu kental saat ini. 

 www.koplaitaku.com
Kali ini, tulisan rangkain sederhana terinspirasi dari video lagu Mentawai yang berjudul “Bak Obak Ake Kap Leleuta”. Masyarakat Mentawai mungkin tidak asing lagi dengan lagu ini, dendangan kesenian musik yang enak didengar tanpa kita sadari penuh pesan yang sangat-sangat mendalam akan keprihatinan dengan kondisi hutan Mentawai (Bumi Sikerei). Peringatan Hari Lingkungan Hidup tepat jatuh pada hari ini, Rabu 02 Agustus 2017 harusnya Mentawai dengan Pemerintahannya harus mampu mengelola hutanny agar dapat lebih produktif.

Jika melihat judul dari tulisan ini “ Bak Obak Ake Kap Leleuta”, rangkain kalimat dari bahasa Mentawai “Bak Obak Ake = jangan dilepaskan, jangan beri izin. “Kap = orang, “sebutan untuk semua penduduk Mentawai”. Leleuta = pegunungan kita, atau lebih identik dengan hutan Mentawai”, Penjelasan singkat dari judul. Hutan Mentawai, itu maksud dari judul tulisan ini, yang terinspirasi dari lagu Mentawai, dapat dilihat bahwa keprihatinan akan kondisi hutan Mentawai sudah sangat-sangat genting sekali. Harusnya pemerintah bersama masyarakat harus punya terobosan dan langkah-langkah yang benar-benar bisa memanfaatkan hasil hutan untuk kesejahteraan rakyat.

Ada apa sebenarnya dengan Hutan Mentawai? 

Untuk menjawab pertanyaan singkat diatas, bisa datang dan saksikan sendiri kondisi hutan Mentawai, atau silakan baca tulisan sederhana ini sampai akhir. Hutan yang melimpah sumber daya, salah satunya ada di Bumi Tuhan, Mentawai, ada sumber daya alam yang melimpah, terkhusus hutan selalu identik dengan pengusaha bermodal besar, sebut saja dia “Si Oom Kapitalis”, lihat hutan Mentawai, begitu memprihatinkan, semuanya rusak tanpa adanya pengelolaan kembali dengan hutan yang rusak (eksploitasi), berpuluh tahun tanpa ampun hutan ini ditebangi untuk keuntungan sepihak dan stakeholder yang punya kepentingan dengan izin, atau pun kongkalikong dengan perusahaan yang beroperasi yang hampir menguasai setengah hutan Mentawai secara keseluruhan, Kampret bagat kan mereka?, maaf terlalu lancang, tapi mana yang lebih lancang, menghianati, memeras rakyat atau mulut saya yang ceplas-ceplos? Silakan jawab sendiri!

Apa yang terjadi akibat kerusakan hutan, Khususnya Mentawai (Bumi Sikerei)?
www.koplaitaku.com
Kita pasti tahu bersama-sama akibat dari kerusakan hutan, apalagi hutan tersebut di eksploitasi tanpa adanya kesadaran untuk reboisasi secara berkesinambungan. Kita lihat apa dampak dari kerusakan hutan!

1. Perubahan Iklim
Oksigen (O2) merupakan gas yang melimpah di Atmosfer, dan sama-sama kita ketahui bahwa hutan merupkan produsen terbesar untuk menghasilkan gas tersebut. Hutan juga sangat-sangat membantu untuk menyerab gas rumah kaca yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global, itulah sebabnya kenapa hutan di sebut sebagai Paru-paru dunia, dan ingat Mentawai punya julukan ini juga.

2. Terganggunya Siklus Air
Sama-sama kita ketahui, pohon memiliki peranan yang sangat penting dalam proses siklus air, yaitu penyerapan akan curah hujan serta menghasilkan uap air yang nantiknya akan di lepaskan ke atmosfer. sederhananya, sedikit pohon, maka serapan air di dalam tanah akan sedikit, akibatnya tanah menajdi kering dan susah buat tenaman lain untuk tumbuh.

3. Hilangnya Berbagai Jenis Spesies 
Deferostasi juga berdampak pada hilangnya habitat berbagai jenis spesies yang tinggal di dalam hutan, deferostasi membuat spesies tidak mempu bertahan hidup disana akibat proses pemenuhan hidup sudah tidak bisa lagi untuk di penuhi, ingat spesies juga hidup dari hasil-hasil hutan. Akibatnya hilangnya spesies tentu akan sangat di sanyangkan di dunia ke ilmuwan karena spesies juga sering dijadikan objeck penelitian.

4. Mengakibatkan Banjir dan Erosi Tanah 
Kita tahu bahwa pohon punya peranan penting dalam menghalau banjir dan tanah longsor, “Mentawai sudah mengalami ini, banjir dan tanah longsor”, ketika hujan, pohon bisa menjadi solusi yang menghalau banjir bandang dan menjadi solusi untuk mempertahankan partikel-partikel unsur tanah-tanah yang subur, jika tidak semua akan terkikis di bawah oleh air hujan.

Paparan akibat dari hutan yang rusak tentunya tidak hanya empat (4) poin diatas saja, masih banyak hal-hal lain dari itu, bisa merusak tatanan masyarakat, susahnya mencari obat-obatan dari alam, terganggunya ekonomi masyarakat di bidang pertanian dan perkebunan, dll. Bisa kita lihat akibat dari hutan yang rusak, dan mentawai telah mengalami hal-hal ini akibat ketamakan dan keserahkaan dari makhluk Tuhan yang paling mulia. 

Lalu pertanyaan berikutnya, Siapa yang punya tanggung jawab untuk menyelamatkan hutan Mentawai?
 
Ada masalah tentu ada solusi, kemudian di dalam masalah tentu ada otak-otak yang membuat masalah tersebut, singkatnya kita semua yang menghadirkan masalah akan kerakusan hutan, sehingga merusak Bumi Tuhan (Bumi Sikerei) Mentawai. Soal tanggung jawab, dari kerusakan itu sama-sama kita yang mencari solusinya, sama-sama kita menyelesaikan dan meperbaikinya sehingga hutan kita bisa kembali seperti semulah walau pun harus menunggu berpuluh-puluh tahun. 

Tapi tunggu dulu, ini belum selesai persoalan tanggung jawab! Semua tanggung jawab dari masalah diatas tentunya ada yang lebih punya tanggung jawab akan musibah itu, memang musibah akibat ketemakan dan kerakusan, becana banjir dan kerusakan struktur tanah, struktur air dan punahnya hewan-hewan primata di Mentawai. Siapa lagi kalau bukan wakil-wakil rakyat Mentawai yang menduduki kursi-kursi empuk Legislatif dan Eksekutif di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Pengelolaan hutan di Mentawai saat ini, sungguh tidak memberikan kesejahteraan di masyarakat, pengelolaan hutan yang ada dimentawai dapat sama-sama kita lihat sangatlah monoton, tidak ada keseimbangan akan pengelolaan hutan dan pelestarian lingkungan.

Harusnya Pemerintah Mentawai , sudah punya bahan evaluasi dengan kondisi hutan Mentawai yang hanya dijadikan wacana proyek memperkaya sepihak (pengusaha) tanpa ada sentuhan untuk kesejahteraan rakyat Mentawai dan jika ini terus-terusan dibiarkan maka mentawai yang hanya setumpukan pulau-pulau, hanya akan menjadi cerita publik akan kondisi tanah yang sudah tidak subur,gersang, bencana banjir dimana-mana dan tentunya rakyat Mentawai akan meminta-minta di negerinya sendiri akibat tidak memiliki lahan yang subur untuk bercocok tanam.

****
Jobel Rifi Dasasius Samaloisa
"hutan adalah penyeimbang kehidupan manusia, maka mari jaga hutan dari orang-orang rakus!".

Senin, 10 Juli 2017

Apa yang Terjadi dengan Birokrasi dan Demokrasi di Mentawai (Bumi Sikerei)

Senin, Juli 10, 2017 // by Jobel RD Samaloisa // // 1 comment


Mentawai adalah sebuah kabupaten yang terdiri dari beberapa pulau besar, tidak asing lagi bahwa pulau tersebut terdiri dari Sikakap (Pagai Utara dan Pagai Selatan), Sipora dan Siberut. Kabupaten Kepulauan Mentawai terletak di pulau Sipora yaitu Tuapejat. Jika melihat dan merefleksikan sejarah, Kabupaten Kepulauan Mentawai berdiri pada 12 Oktober 1999 melalui UU RI No.49 tahun 1999. Sekitar 18 tahun Mentawai berdiri dan memiliki Kabupaten sendiri seiring itu juga perlahan Mentawai mendobrak pembangunan baik itu insprastruktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan tidak terlepas juga sistem birokrasi dan demokrasi menjadi senjata yang merubah semua. Setidaknya kita apresiasi sebagai warga Mentawai.
KP.com
Bila kita membicarakan tatanan masyarakat, tentunya semua tidak pernah lepas dari sistem birokrasi dan demokrasi yang dijalankan. Adapun hubungan birokrasi dan demokrasi itu sendiri sesungguhnya sangatlah rapat. Kedua istilah ini kerap kali dipertentangkan satu sama lain, pertentangan ini berlaku baik ditataran akademis maupun kaum awam. Di suatu sisi birokrasi publik harusnya menempati posisi penting dalam administrasi publik yang tentunya harus efektif. Namun apa yang terjadi bahwa birokrasi dianggap bersifat legalistik dan mengabaikan tuntutan serta keinginan warga masyarakat secara individu. Apa yang terjadi dengan birokrasi di Mentawai dan kebanyakan bahwa lebih cenderung diasosiasikan dengan sesuatu yang bersifat hirarkis bahkan untuk pemerintah yang otoritarian, namun ini tetap terjadi  meski birokrasi tercipta justru untuk mengimplementasikan kebijakan yang telah dibuat, dan lebih sedihnya sering kali terjadi secara demokratis.
KP.com
Di sisi lain, lembaga pemerintah yang demokratis diasumsikan amat responsif pada keinginan publik. Pemerintah demokratis berupaya memetahkan pilihan publik kedalam kebijakan positif bagi warganya. Sering kali dan banyak orang mengkaji bahwa hubungan antara voting dan pilihan kebijakan dalam demokrasi tidak begitu jelas seperti yang banyak di peprbincangkan. Namun bisa saja publik memilih tujuan-tujuan yang ikonsisten atau publik khususnya warga Mentawai punya harapan yang kurang realistik yang bisa saja memaksa pemerintah (baik Legislatif ataupun Eksekutif) karena kebanyak lebih terkesan membuat kebijakan untuk kepentingan diri mereka atau kelompok. Inilah yang terjadi di Mentawai dan tidak bisa dipungkiri.

Memang hubungan antara birokrasi dan demokrasi sekaligus paradoksal juga saling melengkapi. Paradoksal yang efektif tentunya membutuhkan sistem demokrasi memerlukan birokrasi yang berfungsi baik. Apa lagi dengan stereotip kaku yang di jalankan  secara negatif pada birokrasi  justru diperlukan agar demokrasi berfungsi baik. Konsep birokrasi dan demokrasi mungkin sangat berkesan bertentangan. Namun, sesungguhnya keduanya diperlukan demi terciptanya pemirintah yang efektif dan responsif, keduanya menyediakan manfaat yang efektif bagi masyarakat namun apakah yang terjadi kenyataannya seperti itu?. Responsifnya pemerintah di Mentawai secara demokrasi harusnya diimbangi dengan kepastian dan kenetralan yang ada di lembaga birokrasi.

Tidak terlepas dari itu, proses-proses demokrasi diperlukan demi mengabsahkan proses pemerintah dan menghasilkan perundang-undangan yang benar-benar diinginkan warga mentawai khususnya. Sifat komplementer birokrasi dan demokrasi ini sesungguhnya harus menjadi efaluasi esensial bagi pemerintahan yang lebih baik kedepan. Maju Terus Mentawai.
****
Jobel Rifi Dasasius Samaloisa
"Apakah aku salah jika risau melihat negeri kecilku tidak diperhatikan dengan seksama?

Sabtu, 08 Juli 2017

Komplain Atas Rusaknya Hutan Bumi Sikerei “Sappru Loinak Kamentawai, Aponia Atasilok”?

Sabtu, Juli 08, 2017 // by Jobel RD Samaloisa // // No comments


Dahulu Mentawai sempat memiliki julukan sebagai salah satu wilayah dan poros paru-paru dunia. Bila melihat dari tepian pantai, pemandangan yang tersaji adalah pancaran hijaunya pohon-pohon Magrove dengan berbagai kelas (Ordo Magrove). Bila menyusuri sepanjang tepian pantai yang ada di wilayah Mentawai sajian manja akan pemandangan hijau sepanjang mata memandang, nyiur di pantai oleh pepohonan kelapa milik warga sekitar dan pecikan halus ranting-ranting pohon pinus menambah eloknya Bumi Sikerei.

Ketika masih kecil, aku yang lahir dari dusun tersudut dan terisolir sampai sekarang, hutan dan pantai adalah tempat bermain paling menyenangkan bagi aku dan beberapa teman kecil. Begitu lestari alam di dusun saat itu. Setiap Nenek Moyang pendahulu selalu berpesan untuk menjaga hutan dan laut, karena disitulah putra-putri Mentawai mencari hidup. Memang dusun tempat lahirku masih asri dan lestari, aku yang lahir di dusun Matotonan tepatnya di desa Sinaka hampir di ujung pulau Pagai Selatan dengan kecamatan adalah Malakopa dan untuk kesana harus ditempuh dengan jalur laut karena jalan darat masih didalam angan-angan mimpi yang tak pasti.

Keangkuhan, keserahkahan dan minimnya pengetahuan (SDM) akan fungsi dari tempat bermain paling indah bagiku, kini telah tak seindah dahulu ketika masih di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Makin hari kerusakan hutan dan tepian pantai makin membludak dibeberapa titik di Mentawai. Hari demi hari terus aku saksikan kejadian yang sudah tidak asing lagi. Namun yang aku lihat bahwa kerusakan paling parah lebih besar terjadi dibagian hutan hujan tropis  Mentawai dan hampir keseluruhan.

Kejadian ini pun ternyata sudah lama terjadi sebelum aku melihat dunia, sejak tahun 1975 khusus daerah pagai utara dan pagai selatan, daerah dihinggapi nyamuk penghisap  PT Minas Pagai Lumber. Kemudain pada tahun 1995 ketika itu mungkin umurku kurang lebih 2 tahun diperpanjang lagi izinya dengan luas yang tidak sedikit, hampir setengah pulau pagai utara dan seperempat pulau pagai selatan. Oh Gusti, inikah yang namanya keserahkahan, alam-Mu dirusak tanpa diperhatikan.

PT Minas Pagai Lumber sampai pada saat ini pun, masih tetap melakukan produksi di hutan hujan tropis Mentawai, puluhan tahun berproduksi, sudah tidak terhitung lagi uang yang mengalir disini, pihak perusahaan tetap jaya dengan penghisapan yang dilakukan, menumpuk harta kekayaan tidak tahu sampai berapa keturunan. Masyarakat dengan SDM yang masih minim dan hanya menikmati rasa nikmat sesaat terbuai dengan rayuan dari perusahaan. Dengan senyum bangga perusahaan menekan harga kayu masyarakat sampai pada harga yang tidak logis untuk diterima.

Dengan kebodohan bersama, kita anggukkan kepala tanda sepakat dengan harga kayu Rp.25.000 sampai pada harga Rp.30.000/kubik. Namun sadar tidak sadar kita pernah menanyai” untuk sebatang kayu akan butuh berapa puluh tahun untuk tumbuh menjadi tinggi dan besar dan apa fungsi-fungsi yang dihasilkannya?”. Sependek-pendek pemikiran, mungkin tidak pernah terpikirkan, ini adalah akibat keserakahan. Harusnya kita lebih banyak belajar lagi, apa akibat yang ditimbulkan dari penebangan kayu secara besar-besaran. Bila melihat beberapa dusun atau desa yang di kelolah kayunya oleh perusahaan, setelah habis masa kontrak hanya meninggalkan kesusahan, kemiskinan dan kemelaratan di masyarakat.

Dulu Mentawai tidak pernah dikabarkan dengan bencana banjir, sekarang mulai bersaing dengan ibu kota yang selalu identik dengan banjir. Dulu hewan primata yang menjadi primadona bagi wisatawan banyak dijumpai hutan Mentawai mana pun, kini hampir tak bisa ditemui dan mungkin sudah mulai punah. Dulu ketika ingin membuat perahu dan membuat bahan bagunan rumah dengan mudah kita dapati sekarang sudah sangat sulit didapati, hal paling menyadihkan suku Mentawai yang identik dengan pengobatan dari alam untuk mencari obat sudah sagat susah untuk didapati. Maka dari itu apa akibat yang kita peroleh dengan adanya perusahaan PT Minas Pagai Lumber? Mungkin kita bisa berpikir bersama.

Kejadian ini terus terjadi sampai pada saat ini umurku hampir genap 25 tahun, aku saksikan tanpa tahu mau berbuat apa dengan ini semua. Terus aku mencari jalan keluar dan sampailah pada malam ini, sebuah tulisan mulai aku rangkai kata demi kata, itu semua karena aku tidak mau Mentawai dieksploitasi hutannya nan asri, itu semua juga aku lakukan karena masa depan generasi penerus Mentawai masih panjang dan berliku penuh kerumitan, dan tentunya aku tidak mau setan penghisap masyarakat, PT Minas Pagai Lumber terus beroperasi di Mentawai karena hanya membuat bencana, kemelaratan, kemiskinan dan perpecahan di masyarakat. Tentunya Mentawai tidak ingin seperti Siduarjo dengan bencana lumpur lapindo yang masih belum selesai tanggung jawabnya.

Sebelum aku akhiri tulisan ini, Pemerintah Daerah khususnya Mentawai,  Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Pusat dan siapa pun stakeholder yang terlibat dengan perusakan hutan hujan tropis Mentawai, tolong selamatkan hutan Mentawai, sebelum sampai pada titik hutan ini tak bisa diselamatkan dan menjadi bencana buat Mentawai dan daerah disekitar. Kalau memang engkau manusia berpikirlah wajarnya manusia yang peduli dengan manusia lain, jika tidak aku sendiri punya sebutan buat kalian “hewan-hewan pemangsa manusia”.
****
Jobel Rifi Dasasius Samaloisa
"Menangis Melihat Kondisi Alam Bumi Sikerei yang dieksploitasi.